Rabu, 23 Maret 2011

JURNAL BADUT ; SENDIRI


[ Catatan Maret  # 001 ] LABIRIN DEPRESI



Biarkan aku sendiri! Dunia tak akan memahami sepenuh aku. Sesungguhnya kepalaku semakin labirin dalam lingkaran yang berputar – putar di jalur pulang atau lekas pergi. Ini bukan bayang yang mengiringi langkah menuju cahaya, sebab perjalanan sudah bukan lagi sebagai sebuah petualangan. Waktu kewaktu dalam hitungan tahun, kehidupan hanya memeram kebimbangan hingga matang memerah. Berujung pada asa yang putus; Kemana arah yang harus ditempuh, sekelilingku tampak sama, tak ada perbedaan yang memisahkan antara jalan masuk dan keluar. Betapa sedikit yang aku temui tentang petunjuk? Aku tak bisa kembali atau berangkat, hingga yang bisa aku lakukan hanya menulis;



Diluar sana, hanya panggung yang mendedahkan ruang sirkus. Dunia hanya mengenalku sebagai badut yang tak pernah sedih. Tak tahu, diujung malam yang resah, topeng yang slalu tersenyum itu aku tanggalkan, lalu  kutatap sambil membasuhnya oleh basah air tangis.



[ Catatan Maret  # 002 ] INTROVERT



Tinggalkan aku sendiri, dalam tangis yang tak menentu! Air mataku gerimis dari cuaca lain yang tak mengenal musim, terus mengguyur malam hingga kelabukan seluruhnya, sementara langit akan dipenuhi gemintang bila sedang cerah. Kini, menggenangi palung di dadaku yang serupa kubur, tak surut meski tahun dalam jatah usiaku hampir habis. Menjadi kubangan dimana aku temukan jejak – jejak dan bayangan terakhir dilumpurnya, yang terpeleset dalam kelengahan dan jatuh tak terelakan. Aku tak mampu untuk bangkit lagi, dan hanya bisa merangkai kata - kata;



Ini akrobat yang bikin dunia berdecak kagum; Aku melompat dalam gerak yang sempurna, berputar dalam rotasi nasib hingga dapat melihat kenyataan dibalik jungkir kehidupan, dan  mendarat dengan kepalaku. Lalu kembali bangun dengan masih mengenakan topeng yang memiliki satu ekspres; tersenyum.




[ Catatan Maret  # 003 ] EFEK SINDROM



Aku ingin sendiri, hanya untuk berdiam diri! Sambil  tidur terlentang, dan menatap lampu yang bergelantungan diatap-atap kamar. Pernah aku sangka itu rembualan, dengan cahaya yang memancar ketepi mimpi, tempat dimana asa berujung. Buntu. Tiba – tiba, tubuhku tersungkur diranjang, kelantai yang sering ditumpahi kopi dan sepi. Disana, aku menemukan angan yang tergeletak, tabah menanti dan diam sampai ada tangan yang memungutnya, untuk kembali menjatuhkanya. Berkali – kali. Aku enggan terbangun, dan hanya ingin membuat satu kalimat;



Aku sudah terlatih melambungkan angan, menantinya kembali, dan menangkapnya dengan tangan yang sabar tengadah menyambut yang tak pernah berubah menjadi sesuatu yang lain. Apa lagi bermain lempar bola, atraksi itu mudah. Aku sering melakukanya diatas panggung sirkus itu untuk menghibur dunia, hingga riuh tepuk tanganya lindapkan jerit tangisku.




[ Catatan Maret  # 004 ] RUANG PROBLEMA




Biarkan aku sendiri, untuk menangisi diri! Dikamar yang seperti peti mati. Tubuhku yang mayat, semakin membusuk disini. Tapi, aku masih hidup ditengah – tengah kekosongan ini, masih bisa bernafas meski hembus dan hiruknya hanya isak. Bukan karena betah mengapa aku bertahan, melainkan  tak punya nyali;  keberanian untuk mengangkat beceng, dan membidikanya kedepan atau kekepalaku. Sungguh tak ada yang bisa aku lakukan selain mencurahkan isi hati dengan menulis;



Dunia yang bahagia, tak pernah menyadari aku yang berusaha bahagia dihadapanya. Bukankah setiap orang punya masalah, tapi mengapa mereka tak pernah mau tau seperti apa wajah yang aku sembunyikan dibalik topeng yang slalu ceria ini?





[ Catatan Maret  # 005 ] EKSPLISIT



Tinggalkan aku sendiri! Di dinding, menjelma pintu dan jendela dalam kelebat bayang hitam, siluet sebuah peta yang menunjukan dimana sumber dari partikel – partikel kesunyian berada. Aku tak ingin keluar dan tersesat, diruang gelap ini tak ada keakuan dan siasat. Sungguh aku bisa membayangkan wajah – wajah yang mereka sembunyikan dibalik kehidupan, meski dengan atau tanpa cahaya. Dan aku pun menulis;



Persetan dengan mereka! Senyum dan hidupnya adalah hianat.



PERPISAHAN

Di bangku yang sudah menyaksikan banyak kisah tentang perpisahan,
kita duduk, dan menunggu jam keberangkatan bus travel
yang akan mengantar rindu ke mahligai kalbu
Untuk  meminang rasa dengan mahar cinta paling sempurna.

Lama, kau dan aku hanya termangu.
Diam kita peta ke gunung – gunung tinggi
tempat kesejukan terbebaskan
Dimana bisa mencoba teduhkan diri

Dimulutmu, udara menjadi unggun yang kehilangan api.
Tinggal bara yang berjelaga dalam sesaknya dada,
mengiyakan gelak tawa dan dinginya angin malam berpamit
Lalu menyambut pagi dengan sebuah pertanyaan:

“ Haruskan kita melanjutkan pendakian kepuncak yang paling sunyi? “

“ Ah, jawaban dari pertanyaan itu sudah dibisikan hatimu,
kau hanya perlu mempercayainya”


*


Bus siap melakukan perjalanan,
mengangkut hatimu yang risaukan tempat tujuan
Jarum jam yang berputar terburu – buru.
kita  jadi mangsa, terperangkap jadwal keberangkatan yang memburu

Ah, waktu adalah pintu yang slalu terbuka
Jalan  masuk dan pamit pergi
Baik bagi yang tidak atau yang disuka;
Cinta, harta, hingga kegelisahan malam

Semua tidak lebih sekedar tamu,
berkunjung hanya untuk ketemu
lalu pulang setelah kita jamu


*


Perpisahan slalu menjual kisah berharga,
untuk membeli kesan yang tak sekedar ketengan
kini tlah tersimpan dalam travelbagmu
bersama baju – baju, perjalanan malam kita,
dan segala yang kau dan aku sukai
yang berat untuk engkau angkat dan dibawa pulang kesurabaya

Kau merengkuh tubuhku, sebelum berpencaran
Mengakhiri perjalanan dalam mimpi yang sama
Relakan kehilangan hari – hari yang sempat menjadi sebuah harapan

Dalam pelukan yang mendekap debar jantung,
aku seperti berada ditengah kemeriahan diskotek
dan menyaksikan kekasih  berjoget dengan pria lain di dance flor.
Tak ada pesta yang harus dirayakan, sebab aduh…



*


Pergilah, sayang!
Perpisahan tak bedanya ujung malam

Kita adalah ibu dan senandung nina bobo;
pasangan yang mengabdi

Meski jarak memisahkan, jangan berhenti menjadi nyanyian!

Tak mengapa sumbang, sebab kita memiliki harmoninya sendiri;
nada nada kasih yang mengajak cinta untuk bermimpi

Selamat tinggal, cha.










Last cocaine
Bandung, 2011

Kencan dimeja makan yang dihiasi karangan bunga diatasnya, dan menghidangkan roman picisan



/1/



Sayang, inilah pada kenyataanya. Kedadamu, seperti direstoran kelewat mewah. Deretan meja – meja makan yang dihiasi karangan bunga diatasnya tertata rapih, memenuhi ruang yang dibiasi temaram, menantiku singgah dengan dugaan-dugaan; Tamutamu yang pernah hadir disini, tentunya bukan untuk menghindar dari kematian dilahap lapar, mereka pasti datang membawa gengsi dan kepentingan lain, sebab apa yang ada dalam daftar menumu hanya sebuah jamuan dan prestisi.


Aku melangkah meninggalkan diri menanggalkan bayang yang sebelumnya tak pernah berpisah ditubuhku, menyusuri lantai yang dipenuhi jejak – jejak pelangkah ragu mencari tujuan tanpa ujung dan sebuah alamat. Haruskah aku berbaur, lalu melebur bersama suasanamu yang membekuk dada dan kepalaku? Lantas, wajah apa yang bisa aku bayangkan saat berdiri disana?


Dalam dekorasi interior yang seluruhnya indah, tak ada sekenang rupa dari ekspresi kehidupan. Dinding-dindingmu mengurungku dalam keluasan, disudut kesudut yang membuat seutuhnya engkau tak mampu terjangkau. Ditengah kekosongan itu, aku seperti menjalankan keinginan yang seolah kebutuhan. Sungguh aku sudah tak betah, sejak diambang pintu, menuju sopan santun dan kepura-puraan.




/2/



Kadang, aku keluhkan: ini bukan satu cara mencintai yang akan menghadirkan suatu masa mulai mempuitiskan kisah kita. Tak ada bintang dalam kerlip – kerlip syahdu dimalam resah, seumpama membangun suasana romantis dengan setangkai bunga layu, betapa segalanya akan segera sirna tanpa kesan yang bisa kita kenang.


Dalam cinta ini, kita adalah tamu yang sudah lama singga dimeja makan restoran yang dihiasi karangan bunga diatasnya, menanti hidangan dengan cita rasa yang akan memanjakan lidah semata, sambil membicarakan tentang kerinduan masakan ibu yang slalu disuguhkan dengan kasih sayang untuk memuaskan lapar hati.




/3/  




Di meja yang dihiasi karangan bunga diatasnya, kau sajikan kencan yang mendamba romansa dan jatuh cinta. Aku tak bisa lahap memakanya, sebab sibuk menghitung billing yang nanti harus kubayar dikasir.


Yang kuangankan adalah kedekatan yang merah dan asmara, sayang. Bagaikan yang ada dalam daftar menu itu, kemesraan yang kau inginkan hanya sekedar istimewa dalam namanama, tapi sangat kuragukan akan cocok dengan seleraku.


Aku hanya semakin sadar; bertapa asing dihadapanmu. Jauh dari rasa nyaman seperti bersandar dikeyakinan. Adalah waktu yang menjadikan  hidangan penutup sebagai sebuah penantian; lekas sudahkan pertemuan.





/4/



Ini bukan gayaku; Untuk apa terbang mengawang kelangit tinggi, jika gelap yang bisa kau rengkuh. Melayang ke angkasa jauh, jika hampa yang hanya didapat. Tak perlu ketepian semesta, dimana keajaiban berujung, sebab hanya sebuah nadir tempat kau berhenti. Sungguh yang lebih penting dari semua itu adalah tahu apa yang hati mau.


Meja makan  kini diresapi denyar lilin. Diatasnya, dipermukaan bayang – bayang yang melebur, tak dapat menampung hasrat inginku untuk berpijar lebih pancar dan terang serupa pagi. Maka biarkan aku pergi dan kembali berpijak dibumi, tak peduli kau ledek aku kampungan, kemewahan itu hanya menipu diri.





/5/



Kita yang mengasuh suasana, tapi tak mengenalinya begitu binar. Membentangkan jarak antara aku dan kau, yang paling lapang diladang hati, hingga tak bisa mencapai apa yang ingin dicapai; pelukan berkesan, atau sekedar genggaman hangat.


Bahkan, lagu – lagu yang terputar itu tak mampu mencairkan kebekuan kita, atau sekedar mengajak rasa ingin untuk berdansa walau dalam imaji. Hanya meniup suara menuju sau didadaku yang dipucuki rantingranting kering, menyanyikan kemarau ini.


Maaf sayang, Aku hanya membayangkan kebersamaan ini akan merayakan akhir acara lebih meriah dari merayakan pestanya. Lalu, kita pergi kedua kutub arah yang berbeda, sejejak demi sejejak menjauh, mengulur jarak dan berlalu.




/6/



Ada terbayangkan; Sekali saja, kita kencan di bar, live musik atau tempat lain yang tak ada meja dengan dihiasi karangan bunga diatasnya. Aku pasti betah disana,  menikmati bir dan wajahmu—yang keduanya samasama beku, dengan diiringi musik kegemaran;  


Rock ‘n’ roll yang aku suka, iramanya bukan mengajak  menari dengan segala tetek bengek aturan, tapi joged dengan gerak yang terbebaskan. Seperti juga cinta yang kuharapkan; tak pernah mengekang dan membuatku bergoyang sesuka hati.


Jumat, 04 Maret 2011

oh mama oh papa


frekuensi radio yang memperkenalkan aku pada keterasingan.Ketika memancarkan lagu - lagu syahdu ke ruang keluarga. Tempat dimana aku harap kursi - kursinya diduduki cinta yang mampu membebaskan hari esok dari hari kemarin. Hingga tak ada lagi musik yang harus aku dengar.

Rokok dan kopi memaksa aku terdiam terikat gravitasi. Dibalik jungkir stagnat, aku duduk di bawah terang redup neon yang bersekongkol dengan lesung pipi ibu untuk bikin hatiku menjadi belati. Dalam kegelapan, mereka membangun percakapan tentang keinginan, bukan air mata yang lindapkan angan - angan malam. Bukan pula duka yang membuat doa tak lagi menjadi kemah pengembaraan. Kadang berbenturan,seperti kilatan - kilatan cahaya dalam ruang remang diskotek. namun indah untuk di lihat. Dinikmati

Ayah, kapan waktuku menjadi anak - anak. Masa SD,  aku pergi sekolah dengan tas berisi alat penanak nasi yang sempat aku fikir perlengkapan praktek pelajaran agama. Engkau membohongiku, katanya didalamnya ada Tuhan. Makanya aku jual untuk membeli lem aibon. Dan aku pun mampu merekatkan jiwa pada trotoar jalan hingga tak bisa beranjak disana untuk pergi ke sebrang zahanam. Kini aku kaku dan tak berdenyar, karenamu. Ya,karenamu.

tak diundang


Dunia ini berengsek; Cinta slalu tak cukup untuk engkau. Aku melulu menjadi tamu yang pulang dengan hanya membawa kisah tentang bantingan pintu. Hingga jejak – jejak langkah yang tertinggal disepanjang jarak menuju kehadapanmu, seperti mimpi yang sekedar melahirkan kegelisahan malam.

Hatiku masih tertinggal didepan rumahmu. Menggantung dalam diam dan tak juga selesai meratap; Tentang takdirku yang seperti rembulan, sementara  tirai jendela hanya tersingkaf untuk hangatnya limpahan sinar mentari pagi.




Bandung, 2010